MediaProfesi.id
  • Fokus Utama
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Profil
  • Teknologi
  • Sosialita
  • Gaya Hidup
  • Video
Selasa, 15 September 2026
No Result
View All Result
  • Fokus Utama
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Profil
  • Teknologi
  • Sosialita
  • Gaya Hidup
  • Video
Selasa, 15 September 2026
No Result
View All Result
MediaProfesi.id
No Result
View All Result
Home Ekonomi

Pasar Saham Indonesia Tertinggal, Samuel Sekuritas Ungkap Penyebab dan Peluang Kebangkitannya

Syamhudi by Syamhudi
Kamis, 4 Juni 2026
in Ekonomi
Pasar Saham Indonesia Tertinggal, Samuel Sekuritas Ungkap Penyebab dan Peluang Kebangkitannya
76
VIEWS

Jakarta, Mediaprofesi.id – Pasar saham Indonesia masih menghadapi tantangan berat di tengah reli yang terjadi di banyak negara berkembang. Di sisi lain, pasar kripto mulai memasuki babak baru, di mana investor tak lagi hanya mengejar tren, tetapi semakin selektif memilih aset yang memiliki kegunaan nyata dan prospek jangka panjang.

Pandangan tersebut disampaikan PT Samuel Sekuritas Indonesia dalam acara Media Connect hari ini, Kamis (4/6) di Jakarta, yang mengulas perkembangan pasar modal dan aset digital terkini.

Director, PT Samuel Sekuritas Indonesia, Tae Yong Shim, mengungkapkan bahwa kinerja pasar saham Indonesia masih tertinggal dibandingkan mayoritas pasar negara berkembang. Data yang dipaparkan menunjukkan MSCI Emerging Market naik 22,5% secara year-to-date (YTD), sementara MSCI World menguat 9,0%. Sebaliknya, Indonesia justru mencatat pelemahan hingga 29,1% YTD.

Menurut Tae Yong, kondisi tersebut menunjukkan tekanan domestik masih cukup besar sehingga menghambat pemulihan pasar. Salah satu faktor utama yang menjadi perhatian investor global adalah penilaian MSCI terhadap aspek free float dan investability pasar saham Indonesia.

MSCI masih menyoroti sejumlah isu, mulai dari transparansi struktur kepemilikan saham, akurasi data free float, hingga jumlah saham yang benar-benar tersedia untuk diperdagangkan di pasar. Kondisi ini dinilai memengaruhi kepercayaan investor asing.

“Ketika transparansi free float dan investability masih menjadi perhatian, investor global cenderung menunggu bukti perbaikan sebelum kembali masuk secara agresif ke pasar Indonesia,” ujar Tae Yong.

Ia menjelaskan, terdapat tiga faktor utama yang dibutuhkan agar pasar saham Indonesia dapat mengalami rerating, yakni likuiditas yang lebih baik, pertumbuhan laba emiten yang konsisten, serta dukungan kebijakan yang kondusif.

Dari sisi fundamental, prospek laba perusahaan sebenarnya masih menunjukkan pertumbuhan. Weighted EPS LQ45 diperkirakan meningkat dari 61,7 pada 2025 menjadi 66,7 pada 2026, lalu naik lagi menjadi 76,0 pada 2027.

Namun, isu MSCI bukan sekadar persoalan sentimen. Dampaknya juga berpotensi memengaruhi aliran dana pasif global. Dalam tinjauan Mei 2026, MSCI belum memberikan kenaikan bobot saham Indonesia, tidak menambah emiten baru ke indeks MSCI, serta tidak melakukan promosi saham dari kategori Small Cap ke Standard Index.

Selain itu, sejumlah saham juga terdampak penghapusan dari indeks MSCI pada 19 Mei 2026, termasuk AMMN, TPIA, DSSA, BREN, dan CUAN. Revisi data free float pada beberapa emiten tersebut menjadi salah satu faktor yang memengaruhi keputusan MSCI.

Tae Yong juga menyoroti pelemahan rupiah yang menjadi risiko tambahan bagi pasar domestik. Berdasarkan data per 29 Mei 2026, nilai tukar rupiah bergerak di kisaran Rp16.650 hingga Rp17.874 per dolar AS, level yang disebut sebagai salah satu yang tertinggi sejak Krisis Finansial Asia.

“Tekanan terhadap rupiah membuat investor semakin berhati-hati, terutama dalam menempatkan dana pada aset berisiko di pasar domestik,” katanya.

Sementara itu, dari pasar aset digital, Head of Digital Asset, PT Samuel Kripto Indonesia, Muhammad Raditya Adhimukti, melihat adanya perubahan perilaku investor. Jika sebelumnya pasar kripto banyak digerakkan oleh momentum dan narasi besar, kini investor mulai lebih fokus pada utilitas dan kemampuan suatu aset menciptakan nilai.

“Likuiditas masih tersedia, tetapi modal kini jauh lebih selektif. Investor mencari aset yang memiliki penggunaan nyata, basis pengguna yang kuat, dan mekanisme value capture yang jelas,” ujar Raditya.

Bitcoin masih menjadi aset kripto utama yang diperhatikan investor global. Meski terkoreksi 15,7% YTD, Bitcoin tetap dianggap sebagai indikator penting karena sangat dipengaruhi oleh likuiditas global dan arus dana institusional.

Salah satu penopang sentimen positif datang dari Spot Bitcoin ETF yang sejak 2024 telah membukukan arus masuk bersih sekitar US$57,5 miliar. Dana institusional tersebut menjadi faktor penting dalam menjaga permintaan terhadap Bitcoin.

Ke depan, Raditya memperkirakan tema utilitas akan semakin dominan dalam industri kripto. Sektor Artificial Intelligence (AI) dan Real World Assets (RWA) diprediksi menjadi dua area yang paling menarik perhatian.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa tidak semua token yang mengusung narasi besar memiliki fundamental yang kuat, sehingga investor tetap perlu melakukan seleksi secara cermat. * (Syam)

Post Views207 Views
Tags: Asset KriptoBitcoinInvestor SahamMSCIPasar SahamSamuel Sekuritas

Related Posts

Pasar Mulai Menguat, Tapi Jangan Asal Agresif: Ini Strategi Portofolio yang Disarankan
Ekonomi

Pasar Mulai Menguat, Tapi Jangan Asal Agresif: Ini Strategi Portofolio yang Disarankan

by Pratama
Selasa, 8 September 2026
19
Inflasi Naik, DHE Dilonggarkan: Pasar Mulai Menghitung Arah Ekonomi Indonesia
Ekonomi

Inflasi Naik, DHE Dilonggarkan: Pasar Mulai Menghitung Arah Ekonomi Indonesia

by Syamhudi
Senin, 7 September 2026
15

RECOMMENDED

AI Makin Dipakai Karyawan, Celah Kebocoran Data Makin Besar. Akamai Siapkan Solusinya

AI Makin Dipakai Karyawan, Celah Kebocoran Data Makin Besar. Akamai Siapkan Solusinya

15 September 2026
7
Tambang Makin Digital, Hytera Siapkan Teknologi Komunikasi untuk Tutup Celah Sinyal

Tambang Makin Digital, Hytera Siapkan Teknologi Komunikasi untuk Tutup Celah Sinyal

15 September 2026
8

MOST VIEWED

  • Biaya Haji Musim 2023 Diusulkan Naik Menjadi Rp69 Juta per Jemaah Haji, Ini Alasan Menag

    Biaya Haji Musim 2023 Diusulkan Naik Menjadi Rp69 Juta per Jemaah Haji, Ini Alasan Menag

    599 shares
    Share 240 Tweet 150
  • Dokter Phedy Memiliki Keahlian Menangani Berbagai Masalah Tulang Belakang

    399 shares
    Share 160 Tweet 100
  • Mengawali Tahun 2023, Sharp Luncurkan LED TV Aquos IIOTO Series Terbaru

    392 shares
    Share 157 Tweet 98
  • Dable Terbitkan ‘Digital Media Landscape 2021’, Termasuk TOP 30 Media di Indonesia

    362 shares
    Share 145 Tweet 91
  • Kementerian Agama Buka Seleksi Petugas Haji 2023, Syarat Utama Wajib Penguasaan IT

    359 shares
    Share 144 Tweet 90
MediaProfesi.id

MediaProfesi menyediakan berita aktual

CATEGORY

  • Ekonomi
  • Gaya Hidup
  • Nasional
  • Profil
  • Sosialita
  • Teknologi
  • Contact
  • Media Partner

Copyright © 2025 MediaProfesi.id - Design & Developed by XUANTUM

No Result
View All Result
  • Fokus Utama
  • Nasional
  • Ekonomi
  • Profil
  • Teknologi
  • Gaya Hidup
  • Sosialita

Copyright © 2025 MediaProfesi.id - Design & Developed by XUANTUM