Jakarta, Mediaprofesi.id – Pasar memasuki pekan kedua September 2026 dengan sederet sinyal yang tidak sepenuhnya searah. Inflasi domestik kembali meningkat, sektor manufaktur masih berada di zona kontraksi, sementara rupiah dan pasar saham justru mencatatkan penguatan.
Kondisi tersebut membuat investor kini mulai mencermati satu pertanyaan penting: apakah sentimen positif pasar dapat bertahan ketika sejumlah indikator fundamental masih menunjukkan tekanan?
Berdasarkan Syailendra Weekly Update 7 September 2026, inflasi Indonesia pada Agustus 2026 tercatat sebesar 3,19%, naik dari 2,88% pada periode sebelumnya. Inflasi inti turut meningkat menjadi 2,92% dari sebelumnya 2,76%.
Kenaikan inflasi terjadi di tengah perbaikan neraca perdagangan yang kembali mencatatkan surplus US$0,13 miliar, setelah sebelumnya mengalami defisit US$0,45 miliar.
Namun, sektor riil masih menyisakan catatan. Manufacturing PMI turun ke level 49,8 dari sebelumnya 50,2, menandakan aktivitas manufaktur masih berada di bawah ambang ekspansi.
Di tengah kondisi tersebut, pemerintah mengambil langkah relaksasi melalui kebijakan Devisa Hasil Ekspor (DHE) yang diatur dalam PP Nomor 21 Tahun 2026.
Eksportir hasil tambang yang memenuhi persyaratan afiliasi investasi ke Amerika Serikat, China, Hong Kong, dan Kanada kini diperbolehkan hanya menahan 30% hasil ekspor selama tiga bulan. Sebelumnya, ketentuan mewajibkan penempatan 100% DHE selama 12 bulan.
Relaksasi ini menjadi salah satu kebijakan yang akan dicermati pasar karena berpotensi memengaruhi arus likuiditas dan pasokan devisa dalam negeri.
Sentimen domestik juga mendapat dukungan dari implementasi kerangka Local Currency Transaction (LCT) antara Bank Indonesia dan Monetary Authority of Singapore. Skema tersebut memungkinkan transaksi bilateral rupiah dan dolar Singapura dilakukan secara langsung tanpa harus melalui dolar AS.
The Fed Berubah Nada, Pasar Global Langsung Merespons
Dari pasar global, perhatian investor tertuju pada pernyataan Gubernur The Fed Christopher Waller yang bernada lebih dovish pada 4 September 2026.
Waller menilai tekanan inflasi berpotensi mereda dan cenderung mendukung sikap mempertahankan suku bunga pada pertemuan September. Pernyataan tersebut langsung mengubah ekspektasi pasar, dengan probabilitas kenaikan Fed Rate menurut CME FedWatch turun dari 63% menjadi sekitar 50%.
Namun, pasar juga harus berhadapan dengan data ketenagakerjaan AS yang jauh lebih kuat dari perkiraan.
Nonfarm payrolls Agustus melonjak 162.000, dibandingkan 21.000 pada bulan sebelumnya dan jauh melampaui konsensus 53.000. Sementara tingkat pengangguran tetap bertahan di level 4,1%.
Kombinasi antara perubahan nada The Fed dan kuatnya data tenaga kerja membuat arah kebijakan moneter AS masih menjadi salah satu risiko utama bagi pasar global.
Rupiah dan IHSG Menguat
Di tengah beragam sentimen tersebut, aset domestik mencatatkan kinerja positif.
Rupiah menguat 0,31% sepanjang pekan lalu ke level Rp17.630 per dolar AS, seiring indeks dolar AS atau DXY turun ke 99,15.
IHSG juga menguat 1,8% ke level 6.636, didukung foreign inflow sebesar Rp2,32 triliun.
Di pasar obligasi, yield SBN tenor 10 tahun naik ke 7,12%, dengan aliran dana asing mencapai Rp1,97 triliun. Sementara itu, yield US Treasury tenor 10 tahun stagnan di level 4,78%.
Bursa saham AS turut bergerak positif. Nasdaq naik 0,7%, S&P 500 menguat 0,5%, dan Dow Jones bertambah 0,2%.
Data Pekan Ini Jadi Penentu
Pasar kini menunggu sejumlah data penting yang berpotensi menentukan arah pergerakan berikutnya, mulai dari cadangan devisa dan indeks kepercayaan konsumen Indonesia pada 8 September, hingga data PPI AS dan penjualan ritel Indonesia pada 10 September.
Bagi investor, pekan ini bukan sekadar soal apakah pasar akan kembali menguat. Yang lebih penting adalah apakah penguatan rupiah dan IHSG memiliki fondasi yang cukup kuat untuk bertahan di tengah kenaikan inflasi, tekanan sektor manufaktur, serta ketidakpastian arah kebijakan The Fed. * (Syam)





