Jakarta, Mediaprofesi.id – Syailendra Research dalam Syailendra Weekly Update 18 Agustus 2026 menyoroti sejumlah perkembangan penting yang berpotensi memengaruhi pasar keuangan dan perekonomian Indonesia.
Salah satu perhatian utama datang dari MSCI yang telah mengumumkan hasil review Agustus 2026. Dalam evaluasi tersebut, tidak ada perubahan status Indonesia. Namun, MSCI menghapus dua saham dari kategori Global Standard Cap dan sembilan saham dari kategori Small Cap.
Review MSCI berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 1 Desember 2026.
Dari sisi ekonomi domestik, Presiden Prabowo Subianto menargetkan pertumbuhan produk domestik bruto (PDB) mencapai 6% pada akhir 2026, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan PDB semester I-2026 yang berada di level 5,45%.
Pemerintah juga terus mendorong agenda strategis, termasuk swasembada solar melalui implementasi B50. Kebijakan ini ditargetkan mampu menghemat devisa hingga Rp170 triliun per tahun.
Di sektor BUMN, pemerintah berencana melakukan perampingan jumlah entitas dari 1.074 menjadi sekitar 300 perusahaan. Langkah tersebut ditargetkan menghasilkan penghematan biaya overhead hingga Rp70 triliun, sekaligus meningkatkan kontribusi dividen hingga Rp200 triliun.
Sementara itu, Presiden Prabowo menegaskan bahwa DSI berfungsi sebagai monitoring hub, bukan sebagai eksportir. Nilai proceeds ekspor yang terkait kebijakan tersebut diperkirakan mencapai sekitar USD14 miliar.
Menurut Syailendra Research, penegasan tersebut turut mengurangi policy overhang di sektor komoditas. Sentimen ini juga ikut mendorong penguatan rupiah hingga berada di kisaran Rp17.800 per dolar AS.
Untuk 2027, pemerintah memproyeksikan belanja negara mencapai Rp4.097 triliun, meningkat dibandingkan anggaran 2026 sebesar Rp3.843 triliun. Pendapatan negara ditargetkan mencapai Rp3.426 triliun, sementara pembiayaan dipatok Rp671 triliun.
Dengan asumsi tersebut, defisit anggaran 2027 ditargetkan berada di level 2,40% terhadap PDB, lebih rendah dibandingkan target defisit 2026 sebesar 2,68%.
Dari Amerika Serikat, sejumlah indikator ekonomi juga menjadi perhatian pasar. Data CPI tercatat tumbuh 3,4% secara tahunan, sesuai konsensus. Sementara Core CPI naik 0,2% secara bulanan, juga sejalan dengan ekspektasi.
Untuk Core PPI, kenaikan tercatat 0,2% secara bulanan, lebih rendah dari konsensus 0,3%. Sementara klaim pengangguran awal mencapai 209 ribu, sedikit lebih tinggi dibandingkan ekspektasi 202 ribu.
Rangkaian data tersebut menjadi salah satu indikator yang akan terus dicermati pasar dalam membaca arah kebijakan moneter Amerika Serikat sekaligus prospek pasar global ke depan. * (Syam)





