Jakarta, Mediaprofesi.id – PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia melihat peluang penguatan pasar domestik masih terbuka pada paruh kedua 2026. Meredanya tekanan eksternal, pelemahan dolar AS, serta penguatan rupiah dinilai memberi ruang lebih besar bagi otoritas untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi.
Namun, investor tetap perlu mencermati sejumlah trade-off, terutama terkait inflasi, stabilitas nilai tukar, kredibilitas fiskal, serta kualitas pertumbuhan ekonomi dan laba perusahaan.
Head of Research & Chief Economist PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Rully Arya Wisnubroto mengatakan, perhatian investor perlahan mulai bergeser dari risiko global ke faktor domestik seiring meredanya tekanan eksternal.
“Ruang penguatan pasar domestik masih terbuka, tetapi dengan profil risiko yang semakin berimbang. Perhatian investor akan semakin bergeser pada kualitas pertumbuhan dan konsistensi kebijakan domestik, termasuk realisasi fiskal, perkembangan inflasi, serta efektivitas transmisi likuiditas ke sektor produktif,” ujar Rully.
Menurutnya, menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi, inflasi, kredibilitas fiskal, dan stabilitas nilai tukar akan semakin penting dalam menentukan arah pasar ke depan.
Perbankan Masih Jadi Perhatian

Di sektor perbankan, kondisi likuiditas yang relatif ketat, pertumbuhan kredit yang tetap kuat, serta perubahan kebijakan reserve requirement mulai membentuk dinamika baru di industri.
Research Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nurkholis Syafruddin mengatakan, meski terdapat deployment SAL sebesar Rp451 triliun, likuiditas perbankan diperkirakan masih ketat seiring kuatnya pertumbuhan kredit.
Perubahan ketentuan reserve requirement yang berlaku mulai September 2026 juga berpotensi memberikan dampak berbeda bagi setiap bank. Dengan karakteristik likuiditas dan permodalan yang tidak sama, investor dinilai perlu lebih selektif dalam melihat bank yang memiliki ruang pertumbuhan lebih baik.
Mirae Asset Perkuat Wealth Management
Sejalan dengan dinamika pasar, kebutuhan investor juga semakin berkembang. Investor kini tidak hanya membutuhkan akses ke berbagai produk investasi, tetapi juga solusi pengelolaan aset yang sesuai dengan kebutuhan dan tujuan keuangan jangka panjang.
Untuk menjawab perubahan tersebut, Mirae Asset Sekuritas memperkenalkan transformasi Wealth Management sebagai bagian dari perjalanan bisnis barunya. Pertumbuhan kelompok middle class dan mass affluent dinilai membuka peluang pasar yang semakin besar.
Direktur PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Tomi Taufan mengatakan, pengelolaan aset tidak lagi cukup hanya menawarkan produk investasi, tetapi harus dimulai dari memahami kebutuhan setiap nasabah.
“Wealth Management tidak lagi hanya berbicara mengenai produk apa yang tersedia, tetapi dimulai dari memahami kebutuhan nasabah, kemudian menghadirkan solusi yang sesuai. Karena itu, kami mendorong perubahan dari pendekatan product-centric menjadi client-centric,” kata Tomi.
Melalui pendekatan tersebut, solusi dapat disesuaikan dengan kebutuhan likuiditas, pendapatan, pertumbuhan aset, proteksi, diversifikasi, hingga perencanaan investasi global.
Transformasi ini ditopang empat pilar utama, yakni Product, Services, Technology, dan Global Access. Pilar tersebut mencakup layanan yang lebih personal, pilihan produk yang beragam, dukungan teknologi melalui M-STOCK, serta akses ke ekosistem investasi global Mirae Asset.
Mirae Asset juga memperluas akses layanan melalui 29 Office Education di berbagai wilayah Indonesia.
“Melalui transformasi Wealth Management ini, kami ingin membangun hubungan jangka panjang dengan nasabah dan memberikan layanan serta solusi yang sesuai kebutuhan mereka,” ujar Tomi.
Dengan kombinasi jaringan nasional, produk yang beragam, ekosistem global, dan teknologi, Mirae Asset berharap dapat membantu nasabah mengelola sekaligus mengembangkan aset secara lebih terarah. * (Syam)





