Jakarta, Mediaprofesi.id – Tekanan terhadap perusahaan di Asia Pasifik untuk mengembangkan kecerdasan buatan (AI) semakin besar. Namun, di tengah percepatan adopsi generative AI dan agentic AI, perusahaan juga dituntut memastikan data tetap aman, terkendali, dan memenuhi aturan privasi serta compliance.
Kondisi ini membuat konsep sovereign AI kian penting. Cloudera mengungkapkan, hampir 92% perusahaan di Asia Pasifik terpaksa menunda atau membatalkan proyek AI akibat kendala tata kelola data dan compliance. Sementara itu, 63% perusahaan memilih mengembalikan workload AI ke private cloud atau lingkungan on-premises demi mendapatkan kendali lebih besar atas data.
Di tengah tantangan tersebut, Cloudera dinobatkan sebagai Leader dalam IDC MarketScape: Asia/Pacific Sovereign AI Platform 2026 Vendor Assessment.
Pengakuan tersebut mencerminkan kapabilitas Cloudera dalam membantu organisasi mengakses, mengelola, dan menerapkan sovereign AI workload di berbagai lingkungan data, mulai dari private cloud, hybrid, edge, hingga lingkungan terisolasi atau air-gapped.
Menggabungkan AI dan Kendali Data
Melalui Cloudera Platform, perusahaan menghadirkan pendekatan Private AI yang dirancang untuk berbagai lingkungan. Platform ini menggabungkan pemrosesan data-in-motion, open data lakehouse, AI tooling kelas enterprise, serta unified data fabric dengan keamanan dan tata kelola terintegrasi.
Kapabilitas tersebut diperkuat teknologi seperti Apache Ranger untuk kontrol akses, Apache Atlas untuk data lineage, serta Cloudera Data Lineage untuk mengumpulkan metadata secara otomatis.
Hasilnya, perusahaan dapat memperoleh visibilitas hingga tingkat trace dari data sumber hingga model AI yang diterapkan. Pendekatan ini membantu organisasi memenuhi kebutuhan audit dan compliance yang semakin ketat.
Cloudera juga memungkinkan komputasi dilakukan langsung di lingkungan data yang dikelola, sehingga informasi sensitif tidak harus berpindah melintasi batas perusahaan.
Model AI dapat dibangun di satu lingkungan kemudian diterapkan ke lingkungan lain, termasuk pusat data air-gapped maupun perangkat edge seperti board Jetson, tanpa harus menulis ulang kode.
Arsitektur Terbuka Jadi Kunci

Cloudera mengandalkan arsitektur terbuka agar perusahaan dapat menjalankan workload data dan AI di berbagai lingkungan tanpa terikat pada satu vendor hardware maupun infrastruktur.
Ekosistem tersebut didukung kontribusi pada lebih dari 50 proyek open-source Apache, hampir 2.000 akun mitra aktif, serta layanan langsung di sembilan negara Asia Pasifik.
Cloudera juga memperluas kapabilitas sovereign AI melalui peluncuran Cloudera Anywhere Cloud, yang dirancang untuk menjalankan sovereign AI stack langsung di akun cloud milik pelanggan.
“Seiring organisasi-organisasi di Asia Pasifik mempercepat adopsi generative AI dan agentic AI, mempertahankan tata kelola dan sovereignty yang ketat terhadap data dan model lineage merupakan hal yang sangat krusial,” ujar Deepika Giri, VP, Asia/Pacific AI Platforms and Advisory di IDC.
Menurutnya, platform yang menawarkan kemampuan audit sekaligus fleksibilitas penerapan di lingkungan privat, hybrid, dan edge dapat memberikan kontrol yang dibutuhkan perusahaan di industri dengan regulasi ketat.
Sementara itu, Remus Lim, Senior Vice President, Asia Pacific and Japan di Cloudera, mengatakan perusahaan di kawasan tersebut kini mulai menggeser fokus dari sekadar mengadopsi AI menuju bagaimana teknologi tersebut menghasilkan outcome bisnis dengan tetap memenuhi standar tata kelola sovereign.
“Pengakuan kami sebagai Leader oleh IDC MarketScape menggarisbawahi dedikasi kami terhadap pasar Asia Pasifik,” ujar Lim.
Menurut dia, Cloudera ingin membekali organisasi dengan fleksibilitas untuk mentransfer data di berbagai lingkungan cloud, edge, dan on-premises tanpa mengorbankan kendali maupun compliance. * (Syam)





