Jakarta, Mediaprofesi.id – Gelombang investasi kecerdasan buatan (AI) di dunia korporasi ternyata menyimpan persoalan besar. Di tengah ambisi perusahaan memperluas pemanfaatan AI, lonjakan biaya, risiko kegagalan teknologi, hingga tuntutan kedaulatan data mulai menghambat penerapannya dalam skala besar.
Laporan terbaru Cloudera bertajuk The State of Enterprise AI 2026: The New Rules of Scale mengungkapkan, 89% perusahaan telah membatasi atau merancang ulang penggunaan AI akibat meningkatnya konsumsi token. Bahkan, 98% responden mengaku pernah mengurangi atau menghentikan penerapan AI karena kegagalan, halusinasi, maupun perilaku sistem yang tidak terduga.
Laporan tersebut disusun berdasarkan survei Wakefield Research terhadap 1.500 pemimpin dan pengambil keputusan teknologi informasi (TI) di berbagai negara pada September 2026.
Temuan ini memperlihatkan bahwa tantangan perusahaan kini tidak lagi sebatas mengadopsi AI, tetapi bagaimana mengoperasikannya secara efisien, aman, dan berkelanjutan ketika biaya serta tuntutan regulasi terus berubah.
Di Indonesia, tren investasi AI justru menunjukkan akselerasi kuat. Sebanyak 88% perusahaan meningkatkan investasi AI dibandingkan tahun sebelumnya. Bahkan, 70% perusahaan mengalokasikan dana sedikitnya US$500.000 setiap tahun untuk teknologi tersebut.
Namun, besarnya investasi belum otomatis membuat implementasi berjalan mulus. Sebanyak 65% perusahaan di Indonesia mengidentifikasi tata kelola dan kepatuhan sebagai hambatan utama. Persoalan lainnya meliputi kekurangan tenaga ahli (55%), tantangan integrasi data (45%), serta tuntutan kedaulatan data (45%).
Tekanan tersebut berdampak langsung pada strategi pengoperasian AI. Sebanyak 88% organisasi di Indonesia mengaku persyaratan lokasi penyimpanan dan yurisdiksi data memengaruhi penempatan beban kerja AI (workload).
Untuk mengantisipasinya, 53% perusahaan mulai mengadopsi arsitektur multi-environment. Strategi ini digunakan untuk menjaga kedaulatan data, meningkatkan ketahanan sistem, sekaligus mengoptimalkan biaya infrastruktur dan proses inference.

Secara global, persoalan tata kelola juga menjadi penghambat serius. Sebanyak 75% responden menyebut aspek tata kelola dan kepatuhan membatasi perluasan AI. Sementara itu, 55% mengaku biaya untuk memenuhi kedua aspek tersebut meningkat lebih cepat dari perkiraan.
Tekanan biaya bahkan mendorong 45% perusahaan memindahkan beban kerja AI ke lingkungan lain. Di sisi berbeda, 84% responden menyatakan aturan mengenai lokasi penyimpanan dan kedaulatan data turut menentukan di mana AI dapat dijalankan.
CTO Applied AI Cloudera, Brian Martin, mengatakan perluasan penggunaan AI menghadirkan realitas baru bagi perusahaan. Teknologi yang sebelumnya efektif belum tentu tetap ekonomis dan operasional ketika skala penggunaan meningkat.
Menurutnya, perusahaan membutuhkan strategi AI yang fleksibel agar dapat beradaptasi terhadap perubahan biaya, perkembangan model, dan regulasi tanpa kehilangan kendali atas data maupun tata kelola.
Country Manager Cloudera Indonesia, Sherlie Karnidta, menilai perusahaan di Indonesia tengah mempercepat investasi AI, tetapi masih menghadapi persoalan kompleksitas tata kelola, kesenjangan keterampilan teknis, dan fluktuasi biaya inference.
Cloudera menawarkan pendekatan hybrid yang memungkinkan perusahaan menjalankan beban kerja AI di lokasi data berada, baik melalui infrastruktur on-premises, sovereign cloud, maupun lingkungan multi-cloud.
Pendekatan tersebut ditujukan untuk membantu perusahaan memenuhi ketentuan kedaulatan data Indonesia sekaligus menjaga fleksibilitas operasional dan meningkatkan potensi pengembalian investasi (ROI).
Menariknya, laporan tersebut juga menunjukkan bahwa perusahaan mulai menyadari pentingnya membangun fondasi AI sejak awal. Sebanyak 49% responden mengaku akan memperkuat tata kelola jika dapat mengulang perjalanan implementasi AI mereka. Sebanyak 46% akan lebih awal berinvestasi pada kualitas data, sedangkan 45% lainnya akan mempercepat modernisasi infrastruktur dan meningkatkan pelatihan karyawan.
Temuan ini menegaskan bahwa persaingan AI ke depan tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan model, tetapi juga kemampuan perusahaan mengendalikan biaya, menjaga keamanan data, dan memastikan teknologi tersebut benar-benar menghasilkan nilai bisnis.
Laporan lengkap The State of Enterprise AI 2026: The New Rules of Scale dapat diakses melalui situs resmi Cloudera. * (Syam/Wah)





