Jakarta, Mediaprofesi.id – Pasar saham Indonesia memang bangkit tajam, tetapi ancaman belum benar-benar pergi. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melonjak 5,65% ke level 5.279 setelah sebelumnya terperosok di bawah 5.000. Namun, investor asing justru mencatat penjualan bersih Rp2,19 triliun, mengindikasikan aksi beli saat harga murah belum tentu menandai pulihnya kepercayaan terhadap pasar Indonesia.
Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Rully Arya Wisnubroto, mengingatkan bahwa investor masih perlu berhati-hati menyikapi rebound tersebut. Keberlanjutan pemulihan akan sangat bergantung pada arus dana asing, keputusan Bank Indonesia (BI), serta kemajuan nyata reformasi pasar modal.
Rencana Bursa Efek Indonesia (BEI) mengecualikan 80 saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholder concentration (HSC), yang memiliki bobot sekitar 18% terhadap IHSG, dinilai sebagai langkah konstruktif untuk meningkatkan representativitas indeks. Meski demikian, implementasi dan penegakan aturan yang kredibel tetap menjadi pekerjaan besar untuk menjawab kekhawatiran MSCI.
Tekanan eksternal juga belum mereda. Harga minyak Brent masih bertahan di sekitar US$109 per barel, sementara imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun berada di 5,12%. Wall Street bergerak beragam, dengan Dow Jones menguat 1,02%, S&P 500 naik 0,28%, dan Nasdaq terkoreksi tipis 0,02%.
BI Dibayangi Kenaikan Bunga, Rupiah Jadi Taruhan
Tekanan pasar turut menempatkan BI dalam posisi sulit. Analyst Research Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Jessica Tasijawa, memperkirakan BI berpotensi menaikkan suku bunga 25 basis poin menjadi 6% untuk menjaga Rupiah agar tidak menembus Rp18.000 per dolar AS.
Arus keluar dana dari saham sebesar Rp5,6 triliun akibat sentimen MSCI ikut menekan pasar obligasi pemerintah atau INDOGB. Yield obligasi tenor 10 tahun naik 17 basis poin, disertai arus keluar asing harian Rp310 miliar. Penguatan indeks dolar AS (DXY) di atas 101 dan harga minyak yang bertahan di atas US$100 per barel akibat ketegangan Timur Tengah semakin memperbesar tantangan bagi BI.
Kenaikan bunga memang berpotensi membantu menjaga stabilitas Rupiah, tetapi risikonya tidak kecil karena dapat menekan pertumbuhan ekonomi domestik.
Di pasar obligasi, investor institusi domestik menjadi penyangga penting. Dana asuransi dan pensiun mencatat pembelian bersih harian Rp160 miliar pada 16 Oktober 2026. Secara kumulatif sejak awal tahun, arus masuk kedua institusi mencapai Rp139,7 triliun, dengan kepemilikan sekitar 20% dari total obligasi pemerintah yang beredar.
Namun, tekanan belum sepenuhnya hilang. Yield INDOGB tenor 10 tahun naik 1 basis poin menjadi 7,44%, sedangkan tenor dua tahun meningkat 2 basis poin menjadi 6,92%. Kondisi ini terjadi meski yield obligasi AS tenor 10 tahun turun 2 basis poin ke 5,12%.
Rupiah memang menguat 0,30% ke Rp17.992 per dolar AS, terbantu pelemahan DXY sebesar 0,21% ke 101,768. Namun, penguatan tersebut belum cukup untuk menghapus tingginya premi risiko Indonesia.
Mirae Asset juga menyoroti meningkatnya biaya intervensi moneter. Berdasarkan simulasi stress test internal mereka, Rupiah berpotensi dipertahankan di sekitar Rp18.000 per dolar AS selama 29 bulan jika laju penurunan cadangan devisa berlanjut tanpa reformasi kebijakan yang berarti.
Di tengah situasi ini, rebound IHSG menjadi awal pemulihan yang perlu diuji, bukan sinyal bahwa krisis telah berakhir. Kejelasan reformasi pasar, ketahanan Rupiah, dan keputusan BI akan menjadi penentu apakah pasar mampu bangkit lebih kuat atau kembali tertekan. * (Syam/Wah)





