Bali, Mediaprofesi.id – Bali kembali menjadi panggung pertemuan para ahli estetika medis dunia. CGBIO mengumpulkan lebih dari 110 dokter dari 19 negara dalam simposium ilmiah Meet the Masters in Bali 2026, yang digelar di Renaissance Bali Nusa Dua Resort pada 17 Oktober 2026.
Mengusung tema “BEYOND AESTHETICS” dan subtema “The Regenerative Continuum: Where Science Takes Shape”, forum ini membedah strategi perawatan wajah dan tubuh berbasis estetika regeneratif, mulai dari evaluasi kondisi kulit hingga pemilihan kombinasi tindakan sesuai kebutuhan pasien.
Salah satu terobosan tahun ini adalah peluncuran sesi Global Case Sharing. Untuk pertama kalinya, dokter dari lima negara, termasuk Indonesia, mempresentasikan kasus klinis dan membandingkan pendekatan perawatan berdasarkan karakteristik pasien serta kondisi praktik di negara masing-masing.
Digelar rutin di Bali sejak 2023, Meet the Masters menjadi wadah pertukaran pengalaman klinis lintas negara. Tahun ini, pembahasannya semakin spesifik, dengan fokus pada DCLASSY CaHA, produk berbasis calcium hydroxyapatite (CaHA) dari CGBIO yang dikenal secara global dengan nama FACETEM.
Para peserta mendalami penggunaan CaHA yang dikombinasikan dengan hyaluronic acid (HA), perangkat berbasis energi (energy-based devices/EBD), hingga thread lifting. Fokusnya adalah bagaimana dokter menentukan kombinasi perawatan berdasarkan struktur wajah, tingkat kekenduran kulit, kondisi jaringan, dan tujuan pasien.
Pada sesi pertama, Dr. Gi Woong Hong, Presiden SAMSKIN Plastic Surgery Clinic yang turut mengembangkan panduan aplikasi CaHA CAST Code bersama CGBIO, memaparkan tiga pendekatan utama: Localized Lifting, Structural Contouring, dan Skin Rejuvenation.
Berbagai kasus turut menunjukkan bagaimana CaHA dapat dikombinasikan dengan HA dan thread lifting, dengan mempertimbangkan anatomi serta kondisi kulit setiap pasien.
Pembahasan kemudian meluas ke body rejuvenation. Dokter asal Brasil membagikan pengalaman penggunaan CaHA dan EBD pada area tangan hingga décolleté. Pendekatan ini menyoroti pentingnya menyesuaikan metode perawatan karena karakteristik kulit dan pola penuaan tubuh berbeda dari wajah.
Global Case Sharing Jadi Sorotan

Puncak diskusi hadir melalui Global Case Sharing, yang melibatkan dokter dari Mongolia, Vietnam, Portugal, Indonesia, dan Irak. Mereka mempresentasikan kasus pada area leher, sekitar mata, hingga harmonisasi wajah secara menyeluruh.
Forum ini memberi ruang bagi dokter untuk membandingkan evaluasi pasien, pemilihan tindakan, dan pertimbangan klinis di balik setiap keputusan. Diskusi tidak berhenti pada teori, tetapi bertumpu pada pengalaman praktik dari berbagai negara.
Rangkaian acara telah dimulai sehari sebelumnya, 16 Oktober, melalui pelatihan langsung di NULOOK Clinic. Sesi ini memperlihatkan proses evaluasi pasien, penyusunan rencana perawatan, hingga pelaksanaan tindakan.
Dengan menggabungkan pelatihan praktik dan simposium ilmiah selama dua hari, CGBIO menempatkan proses pengambilan keputusan klinis sebagai bagian penting dari edukasi estetika regeneratif.
Dokter Indonesia, dr. Olivia Aldisa, menilai kesempatan membandingkan pengalaman klinis lintas negara menjadi salah satu nilai utama acara tersebut. Diskusi mengenai strategi kombinasi perawatan wajah dan tubuh yang dikaitkan dengan hasil klinis, menurutnya, membantu dokter menyusun rencana yang lebih spesifik bagi setiap pasien.
Ia juga menyoroti peluang dokter Indonesia untuk semakin aktif dalam forum internasional ketika para ahli dunia berkumpul di Tanah Air.
Ke depan, CGBIO akan terus mengembangkan Meet the Masters sebagai platform edukasi dan pertukaran pengalaman klinis global. Melalui kolaborasi dengan NULOOK Clinic dan para ahli internasional, perusahaan juga berupaya memperluas keterlibatan dokter Indonesia dalam diskusi ilmiah di tingkat dunia. * (Syam/Wah)





