Jakarta, Media-profesi.com – Inflasi IHK bulanan Indonesia pada bulan Maret tercatat sebesar 0,2% MoM (vs. konsensus 0,3% MoM), atau 5,0% YoY (vs. konsensus 5,1% YoY). Kondisi cuaca masih menjadi salah satu faktor utama yang mempengaruhi inflasi IHK, dimana kondisi cuaca, yaitu curah hujan yang tinggi di beberapa daerah yang mengganggu pasokan dan produksi pangan.
“Kami masih melihat ketidakstabilan harga pangan sebagai risiko utama inflasi IHK ke depan. Kami perkirakan inflasi akan tetap tinggi di bulan April, bertepatan dengan sisa bulan Ramadan dan perayaan Idul Fitri,” ujar Rully Arya Wisnubroto, Senior Economist Mirae Asset Sekuritas dalam siaran persnya kepada redaksi Media-profesi.com hari ini, Selasa (4/4/2023) di Jakarta.
Kendati semua komponen inflasi semakin stabil pada bulan Maret, dengan inflasi inti, harga yang diatur pemerintah, serta harga bergejolak melambat di bulan Maret.
Namun demikian, kami masih menganggap harga barang yang diatur dan harga bergejolak masih cukup tinggi secara historis. Sedangkan untuk inflasi inti, tren penurunan inflasi inti menunjukkan efektivitas kebijakan moneter, namun juga mengindikasikan perlambatan ekonomi domestik.
Menurut kami BI telah mengambil keputusan yang tepat dengan tidak menaikkan BI 7-DRR terlalu agresif dalam menghadapi inflasi yang tinggi. Kami perkirakan BI akan mulai memangkas suku bunga kebijakan pada Q124, karena prospek inflasi domestik akan semakin stabil tahun depan.
Kami menilai inflasi IHK yang masih tinggi hingga Q323 akan membuat konsumsi rumah tangga sulit untuk tumbuh pesat, terutama bagi kelompok berpenghasilan menengah ke bawah. Oleh karena itu kami perkirakan konsumsi rumah tangga akan tumbuh moderat tahun ini. * (Syam/Pra)





