Penulis: Sabpri Piliang – Pengamat Timur Tengah
Jakarta, Mediaprofesi.id – KONFLIK PALESTINA-Israel, membentuk persepsi regional. Bahkan ‘postulat’ inklusif!
Persepsi Israel “berselimut” AS. Bisa membom siapa saja! Mau “kawan”, temannya “selimut” (baca: AS). Semua boleh diserang!
Israel semasa Trump, menjelma seperti “Django” yang memburu “Sartana”, atau Burt Keller. Layaknya film “western” 70-an: “Django & Sartana”. Israel menghabisi siapa pun!
Sikap “Django” (baca: Israel) yang suka-suka, sesuai persepsinya. Telah meresahkan sekutu Arab sang “selimut” (baca: AS). Tatanan, sekutu tidak dapat, atau “haram” diserang. Tak berlaku bagi Israel, dan “ambyar”!
Membiarkan Israel. Tanpa hukuman! Trump (baca: AS), telah melanggar prinsip-prinsip perjanjian dalam kesepakatan Abraham (2020) yang diprakarsainya.
Trump (The Guardian, 15 September 2025), tak muncul sebagai seorang yang dapat dibujuk, disanjung, dirayu oleh negara Arab. Bila itu menyangkut “kerugian” Israel!
“Bom” Qatar (9 September), “menampar” wajah AS! Disamping pelanggaran terhadap kedaulatan negara, Qatar adalah sekutu “erat” AS, di mana terdapat aset Pangkalan Militer Al Udeid. Terbesar di Timteng.
Apa yang dilakukan Israel pada Qatar, menjadi “postulat”. Negara Arab (Liga Arab), atau GCC (Teluk), hanya dapat “berselimut” pada AS, bila tak “beririsan” kepentingan Israel.
“Praktik”, tanpa melihat tatanan (pranata). Atau konvensi yang telah dibuat AS bersama negara Arab. Menjadi kertas “kosong”, yang hanya boleh diisi Israel, dengan tema pilihannya! Bukan tema “brainstorming”!
Sebagai “polisi dunia”, Trump tidak memiliki perhatian untuk mencegah konflik. Trump, tidak ingin “menggambar” ulang peta dan politik Timur Tengah. Seperti pernah dilakukan Presiden AS Jimmy Carter dan Bill Clinton.

Jimmy Carter dengan Camp David-nya (1979), memberi perdamaian fundamental Israel-Mesir. Tiga tahun setelah kesepakatan, Israel mengembalikan 60 km2 Gurun Sinai, yang direbut Israel di perang enam hari (1967).
Sementara, Bill Clinton, memberi ruang ‘pra-kemerdekaan’ pada Palestina. Lewat perjanjian Oslo I dan II (1993), saling pengakuan PLO dan Israel di Washington.
Sesungguhnya, Presiden AS Donald Trump, punya peluang mencari terobosan ‘ala’ Carter dan Clinton. Hanya AS yang mampu mengendalikan Israel. Siapa pun Presiden, Demokrat atau Republik, Israel akan patuh. Carter dan Clinton, berasal dari Demokrat.
Hanya saja, nampaknya. Trump yang memiliki ‘domain’ sebagai penentu ‘arah’ PM Israel Benyamin Netanyahu, sekaligus pemutar ‘remote’ perang, atau ‘stop’! Seperti memiliki beban ‘psikologis’ akut.
Terlebih kondisi Gaza, secara inklusif. Abnormal! Kekejian, terlepas dari Hamas yang memulai. Telah menjadikan Israel instrumen “hukum”, tanpa kontrol dan koreksi.
Koreksi sudah ada. Namun, tanpa restu AS, Inggris-Perancis-Uni Eropa, tak berani bertindak! Karena Israel adalah “penentu harga” nyawa anak-anak dan wanita di Gaza! Sementara AS, “menutup mata”!
PERSUASIFITAS ARAB

Pertemuan darurat negara Arab-Islam di Doha, telah berakhir kemarin. Tak ada kejutan! Tak ada Komunike ‘ekstrem’: memutuskan hubungan diplomatik, menarik Duta Besar: Mesir, UAE, Bahrain, atau Maroko dari Tel Aviv.
Para pemimpin Arab-Islam hanya meminta, agar AS bisa “mengendalikan” Israel. Alih-alih membalas tindakan ekonomi, atau politik. Seperti membatalkan perjanjian Abraham, atau membekukan nilai perdagangan UAE-Israel senilai 3 milyar USD. KTT cenderung ‘kalem’.
Namun, selepas KTT, akan ada pembicaraan khusus negara Dewan Kerjasama Teluk (GCC): Qatar, UAE, Bahrain, Kuwait, Oman, juga Saudi.
Komando pertahanan GCC secara perlahan, akan mulai mengakhiri ketergantungan mereka pada AS. Sebagai “selimut” keamanan!
Karena percuma! Praktis, selagi persoalan Palestina tanpa “terobosan”, ancaman serangan Israel kepada negara GCC akan berulang. Solidaritas Arab, tak mungkin membiarkan Hamas tanpa tempat berteduh.
Pembiaran AS (meski terikat kesepakatan dengan GCC), bila menyangkut Israel (pemboman Qatar). Diprediksi memunculkan “argument clinic”, dengan alasan beragam: terlambat memberi tahu, atau apa pun!
Negara Arab-Islam, tak akan menyinggung Trump. Tidak akan mengecam Trump. Namun, sejak saat ini, negara Arab Teluk mulai mencari cara lain menjaga kedaulatannya. Tanpa harus memusuhi Trump.
Bandul politik AS-Arab (Teluk) tak akan bergeser. Namun, pasti akan mengalami ‘deviasi’. * (Syam/Pra) Foto: Istimewa





