Jakarta, Mediaprofesi.id – Harga emas mengalami koreksi cukup dalam sepanjang Januari-Juni 2026. Dalam periode tersebut, harga emas terkoreksi sekitar 20%, menjadi koreksi terbesar dalam satu dekade terakhir.
Namun, penurunan harga tersebut tidak serta-merta menghilangkan daya tarik emas di mata investor. Justru, aksi pembelian emas dalam jumlah besar oleh bank sentral di berbagai negara semakin menegaskan posisi emas sebagai aset strategis sekaligus portfolio diversifier.
Menurut Syailendra Research, ada sejumlah alasan mengapa emas tetap menarik di tengah dinamika pasar global.
Pertama, kinerja emas dalam jangka panjang masih unggul.
Meski dikenal sebagai aset yang tidak menghasilkan pendapatan (non-yielding asset), emas mencatatkan rata-rata return 9,7% dalam 15 tahun terakhir. Penguatan terutama terlihat dalam tiga tahun terakhir, didorong oleh tren dedolarisasi, agresivitas pembelian bank sentral, serta meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
Kedua, emas dapat menjadi pelindung terhadap pelemahan rupiah.
Dengan pasokan yang terbatas, harga emas memiliki kecenderungan menguat secara struktural dalam jangka panjang. Karakter ini membuat emas berperan sebagai salah satu instrumen lindung nilai ketika nilai tukar rupiah mengalami tekanan.
Bagi investor Indonesia, karakter tersebut menjadi semakin relevan karena pergerakan harga emas juga berkaitan dengan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.
Ketiga, cara berinvestasi emas terus berkembang.
Jika sebelumnya masyarakat lebih familiar dengan emas fisik, pilihan investasi kini semakin beragam, mulai dari emas digital hingga Exchange Traded Fund (ETF) emas.
ETF emas menawarkan sejumlah keunggulan, antara lain tidak membutuhkan tempat penyimpanan fisik dan dapat memberikan efisiensi biaya. Instrumen ini juga menawarkan spread harga yang lebih kecil dibandingkan sejumlah alternatif investasi emas lainnya.
Perkembangan tersebut menandai babak baru dalam investasi emas. Investor kini tidak lagi harus memiliki emas secara fisik untuk mendapatkan eksposur terhadap pergerakan harganya.
Salah satu pilihan yang hadir di pasar adalah Syailendra ETF Sharia Gold (XSGO). Produk ini memungkinkan investor memperoleh eksposur terhadap emas tanpa harus menyimpan emas secara fisik, dengan dukungan kemurnian emas yang terstandardisasi, likuiditas yang terjaga, serta efisiensi biaya.
Di tengah dinamika pasar dan perubahan strategi investasi, emas pun tak lagi sekadar dipandang sebagai aset untuk disimpan. Bagi investor, emas semakin menjadi bagian dari strategi diversifikasi portofolio untuk menghadapi ketidakpastian sekaligus menjaga nilai investasi dalam jangka panjang. * (Syam)





