Jakarta, Mediaprofesi.id – Bank Indonesia (BI) mempertahankan BI Rate di level 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Agustus 2026. Keputusan tersebut sesuai dengan ekspektasi pasar.
Meski tidak mengubah suku bunga acuan, BI tetap memberikan stimulus melalui sejumlah kebijakan non-rate. Di antaranya, menaikkan insentif foreign exchange (FX) swap hedging menjadi 12,5%, memangkas Merchant Discount Rate (MDR) QRIS menjadi 0% untuk transaksi hingga Rp100.000, serta meningkatkan insentif Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) menjadi 6% terhadap Dana Pihak Ketiga (DPK).
Dalam laporan Syailendra Weekly Update yang dirilis Syailendra Research pada 24 Agustus 2026, kondisi pasar domestik juga dipengaruhi perkembangan eksternal.
FTSE Russell mempertahankan status Indonesia sebagai Emerging Market dan menunda penambahan maupun peningkatan bobot Indonesia hingga review Desember. Namun, pengurangan bobot dan penghapusan saham tetap dapat dilakukan mulai 21 September. Kondisi ini membuat tekanan dari index-related flow masih berpotensi terjadi.
Dari sisi eksternal, defisit transaksi berjalan (Current Account Deficit/CAD) Indonesia melebar menjadi US$12,5 miliar atau 3,34% dari PDB pada kuartal II 2026. Angka tersebut merupakan defisit tertinggi sejak kuartal IV 2018.
Pelebaran defisit terutama dipicu lonjakan impor yang mencapai rekor US$70,5 miliar, khususnya impor migas. Selain itu, defisit jasa melebar menjadi rekor US$5,9 miliar, antara lain akibat meningkatnya aktivitas impor dan musim ibadah haji.
Meski demikian, defisit neraca pembayaran (Balance of Payment/BoP) menyempit menjadi US$0,9 miliar, dari US$9,2 miliar pada kuartal I 2026. Perbaikan ini ditopang surplus arus modal dan investasi sebesar US$12 miliar, terutama dari arus masuk SRBI sebesar US$8,5 miliar.
Tekanan Global Masih Membayangi
Dari Amerika Serikat, Departemen Keuangan AS meningkatkan porsi buyback obligasi tenor panjang 10 tahun, 20 tahun, dan 30 tahun menjadi US$4 miliar per operasi, dari sebelumnya US$2 miliar. Program tersebut berlaku pada 9 September hingga 4 November 2026.
Langkah ini dinilai sebagai upaya menjaga likuiditas pasar sekaligus meredam tekanan kenaikan imbal hasil obligasi tenor panjang yang telah mencapai 4,7%.
Sementara itu, minutes The Fed menunjukkan kecenderungan hawkish dengan ekspektasi kenaikan Federal Funds Rate (FFR) sebesar 25 basis poin pada FOMC Juli.
Di sisi lain, perundingan dagang Amerika Serikat dan Kanada resmi gagal. Perdana Menteri Kanada Mark Carney menyatakan negosiasi dihentikan karena perubahan persyaratan terbaru dari AS dinilai tidak adil.
Kanada pun bersiap menerapkan tarif balasan secara penuh terhadap AS di tengah ancaman bea masuk hingga 50% yang membayangi sekitar 5% ekspor Kanada.
Rupiah dan IHSG Menguat
Di tengah berbagai sentimen tersebut, pasar domestik justru menunjukkan kinerja positif.
Rupiah sepanjang pekan lalu menguat 0,74% ke level Rp17.649 per dolar AS. Pada periode yang sama, indeks dolar AS (DXY) turun ke level 98,83.
Di pasar obligasi, imbal hasil SUN tenor 10 tahun (ID10Y) turun ke 6,95%, meski masih terjadi foreign outflow sebesar Rp458 miliar.
Sementara itu, IHSG mencatat penguatan cukup signifikan sebesar 1,9% ke level 6.526, dengan arus dana asing masuk mencapai Rp1,25 triliun.
Pergerakan positif pasar domestik tersebut terjadi ketika pasar saham AS justru terkoreksi. Nasdaq turun 2,5%, S&P 500 melemah 1,9%, sedangkan Dow Jones terkoreksi 1,8%.
Kondisi ini menunjukkan pasar Indonesia masih memiliki daya tahan di tengah ketidakpastian kebijakan moneter global dan tekanan dari pasar keuangan internasional. * (Syam)





