Jakarta, Mediaprofesi.id – Ancaman sambaran petir tidak bisa dianggap remeh, terutama di kawasan terbuka dan fasilitas vital seperti kilang minyak, tambang, jaringan transmisi listrik, hingga lapangan golf.
Menjawab kebutuhan tersebut, PT Zeus Prima Garda menghadirkan teknologi proteksi dan deteksi petir yang diklaim memiliki jangkauan perlindungan lebih luas dibandingkan sistem konvensional.
Hal itu disampaikan Junior Engineer R.E. PT Zeus Prima Garda, Muhammad Irfan Firdaus, dalam wawancara eksklusif bersama redaksi Mediaprofesi.id di sela pameran Indonesia Energy & Engineering (IEE) Series – Energy Week 2026 yang berlangsung pada 2–5 September 2026 di JIExpo Kemayoran, Jakarta.
Salah satu teknologi yang menjadi andalan adalah Early Streamer Emission (ESE) Air Terminal. Berbeda dengan sistem penangkal petir konvensional yang bekerja secara pasif, teknologi ESE dirancang aktif memancarkan streamer untuk menangkap sambaran petir lebih cepat.
“Kalau sistem konvensional cenderung menunggu petir datang, ESE bekerja aktif sehingga radius proteksinya bisa lebih luas,” ujar Irfan.
Sistem tersebut juga didukung kabel DSTC, sistem grounding, serta perangkat pendukung lainnya untuk membantu mengalirkan energi sambaran petir dengan aman dan meminimalkan risiko rambatan ke peralatan atau struktur yang dilindungi.
Tak hanya memberikan perlindungan, PT Zeus Prima Garda juga menghadirkan sistem pemantauan bernama Lightning Event Counter. Melalui perangkat ini, pengguna dapat mengetahui seberapa sering suatu bangunan atau struktur tersambar petir, termasuk besarnya arus sambaran yang tercatat dalam satuan kiloampere.
“Jadi pengguna bisa mengetahui lokasi tersebut sudah terkena petir berapa kali dan berapa besar sambaran petir yang terjadi,” jelasnya.
Menariknya, perusahaan juga memiliki teknologi StrikeGuard, yaitu sistem pendeteksi petir yang berfungsi sebagai peringatan dini.
Sistem ini dapat memberikan alarm ketika aktivitas petir mulai terdeteksi di sekitar lokasi. Teknologi tersebut dinilai sangat penting untuk area terbuka yang memiliki risiko tinggi, salah satunya lapangan golf.

“Kalau alarm berbunyi, orang-orang yang sedang berada di lapangan bisa segera mencari perlindungan atau menuju shelter,” kata Irfan.
Produk proteksi petir PT Zeus Prima Garda disebut telah digunakan di berbagai sektor vital. Bahkan, menurut Irfan, teknologi perusahaan tersebut telah menjadi salah satu standar proteksi petir di lingkungan Pertamina.
Selain sektor minyak dan gas, perusahaan juga menyasar empat sektor utama, yakni lapangan golf, industri migas baik darat maupun lepas pantai, tower transmisi listrik, serta industri pertambangan.
Untuk lapangan golf, sistem proteksi dipasang di sejumlah titik menggunakan tiang monopole dengan ketinggian tertentu. Setiap titik dapat memberikan radius perlindungan hingga sekitar 120 meter, tergantung kondisi dan kebutuhan lokasi.
Sementara untuk fasilitas seperti kilang minyak dan tower transmisi, perangkat proteksi dipasang pada titik tertinggi atau bagian struktur yang membutuhkan perlindungan.
Menariknya lagi, teknologi tersebut merupakan produk dalam negeri. Untuk ESE Air Terminal, proses produksi dilakukan di Bandung, sedangkan kabel yang digunakan diproduksi melalui kerja sama dengan KMI yang memiliki fasilitas manufaktur di Cakung.
“Kalau untuk produknya, ini lokal,” tegas Irfan.
Melalui kehadirannya di IEE 2026, PT Zeus Prima Garda ingin menunjukkan bahwa teknologi proteksi dan deteksi petir buatan Indonesia juga mampu menjawab kebutuhan sektor-sektor strategis dengan tingkat risiko tinggi. * (Syam)





