Jakarta, Mediaprofesi.id – Jangan buru-buru menyalahkan baterai utama ketika mobil listrik tiba-tiba tidak bisa ready. Ada satu komponen kecil yang justru bisa membuat mobil listrik kehilangan fungsi kelistrikan dan tidak dapat beroperasi: aki 12 Volt.
Fakta ini diungkap PT Astra Otoparts Tbk dalam talkshow EV Auxiliary Battery di ajang Automechanika Jakarta (AMJKT) 2026, Sabtu (26/9/2026), di Nusantara International Convention Exhibition (NICE) PIK 2, Tangerang.
Product Manager Aki GS Astra PT Astra Otoparts Tbk, Yandi Hermanto, menegaskan mobil listrik tetap menggunakan aki 12 Volt. “Mobil listrik itu pasti akan pakai aki,” ujar Yandi.
Pada kendaraan listrik terdapat dua baterai dengan fungsi berbeda. Baterai utama berbasis lithium menyuplai tenaga untuk menggerakkan kendaraan. Sementara aki Auxiliary Battery 12 Volt bertugas menjaga berbagai sistem kelistrikan tetap bekerja.
Mulai dari head unit, door lock, lampu, hingga sistem elektronik kendaraan bergantung pada suplai aki 12 Volt. Di sinilah persoalan serius bisa muncul.
Technical Engineering PT GS Battery, Aditya, menjelaskan ketika Auxiliary Battery mengalami masalah, sistem kelistrikan kendaraan dapat terputus. Kondisi ini bisa membuat EV gagal masuk mode ready sehingga kendaraan tidak dapat dioperasikan. Artinya, baterai utama masih penuh tidak otomatis menjamin mobil listrik bisa berjalan.
Aki Kecil, Dampaknya Bisa Besar

Persoalan tidak berhenti di kendaraan yang gagal bergerak. Ketika aki 12 Volt mulai lemah, sejumlah fungsi penting juga bisa ikut bermasalah.
Indikasinya antara lain muncul peringatan pada panel instrumen, kendaraan sulit masuk mode ready, serta fungsi keyless entry dan door lock mulai terganggu.
Dalam kondisi aki benar-benar habis, pemilik bahkan berpotensi kesulitan membuka atau mengakses kabin. Karena itu, aki 12 Volt pada EV tidak bisa diperlakukan sama seperti aki kendaraan konvensional.
Jangan Asal Pilih Aki
Astra Otoparts mengingatkan pemilik EV agar tidak sekadar melihat label 12 Volt ketika memilih aki pengganti.
Aditya menyebut ada sejumlah parameter yang harus diperhatikan, mulai kapasitas baterai dalam Ampere-hour (Ah), dimensi panjang, lebar dan tinggi, hingga polaritas atau posisi terminal positif dan negatif.
“Jika ukuran tidak sesuai atau posisi terminal salah, aki tidak akan fit dan tidak dapat digunakan,” pungkas Aditya.
Untuk kebutuhan tersebut, GS Astra memperkenalkan GS EVA sebagai Auxiliary Battery yang dirancang untuk kendaraan listrik dengan karakteristik sistem kelistrikan berbeda dari kendaraan bermesin pembakaran internal (ICE).
Produk ini sebelumnya diluncurkan pada 2 Agustus 2026 bertepatan dengan GIIAS. GS Astra menyebut distribusinya didukung lebih dari 16.000 mitra ritel tradisional dan sekitar 600 jaringan ritel modern di Indonesia.
Jangan Tunggu Sampai EV Tak Bisa Jalan

Astra Otoparts juga memperkenalkan GS Astra Care untuk membantu pemilik kendaraan mendeteksi kondisi aki dan sistem kelistrikan sebelum masalah berkembang menjadi mogok.
Pemeriksaan menggunakan konsep BASel, yakni Battery, Alternator, Starting, Electricity Load, dan Leakage atau kebocoran arus. Layanan tersebut terbuka bagi kendaraan dengan berbagai merek aki.
Bagi pemilik EV, persoalannya kini semakin jelas. Perhatian terhadap baterai utama memang penting, tetapi aki 12 Volt juga tidak boleh diabaikan. Komponen kecil ini bisa menjadi penentu apakah sebuah mobil listrik siap melaju atau justru hanya terparkir ketika dibutuhkan. * (Syam)





