Jakarta, Mediaprofesi.id – Kinerja fiskal Indonesia menunjukkan perbaikan signifikan, tetapi tekanan di pasar keuangan belum mereda. Penerimaan pajak melonjak 24,1% hingga September 2026, sementara rupiah masih tertekan di level Rp17.891 per dolar AS dan investor asing mencatatkan arus dana keluar dari pasar saham maupun obligasi.
Dalam Syailendra Weekly Update edisi 12 Oktober 2026, Syailendra Research mencatat penerimaan pajak mencapai Rp1.607,6 triliun atau 68% dari target APBN 2026. Angka ini berbalik tajam dibandingkan periode yang sama tahun lalu, ketika penerimaan pajak masih mengalami kontraksi 4,4%.
Pendapatan negara secara keseluruhan mencapai Rp2.341,5 triliun, tumbuh 25,5% secara tahunan (year-on-year/YoY) dan setara 74,2% dari target. Penerimaan negara bukan pajak (PNBP) bahkan sudah melampaui target, dengan realisasi 107,2%.
Namun, lonjakan pendapatan tersebut belum menghapus tekanan belanja negara. Hingga September, belanja mencapai Rp2.660,5 triliun, naik 19% YoY. Akibatnya, APBN mencatat defisit Rp319 triliun atau 1,24% terhadap produk domestik bruto (PDB).
Meski defisit meningkat dari 0,9% PDB pada Agustus, realisasinya baru 46,3% dari target defisit 2026 sebesar Rp689,1 triliun atau 2,68% PDB. Keseimbangan primer juga masih mencatat surplus Rp125,5 triliun, berlawanan dengan target tahunan yang memperkirakan defisit Rp89,7 triliun.
Prospek ekonomi naik, tetapi risiko belum hilang
Bank Dunia menaikkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 menjadi 5,2%, dari perkiraan April sebesar 4,7%. Dukungan datang dari dampak kenaikan harga energi yang dinilai lebih ringan, program prioritas pemerintah, investasi, serta subsidi energi.
Namun, ada sejumlah sinyal yang perlu dicermati. Aktivitas domestik mulai melemah, tercermin dari penurunan indeks manajer pembelian (PMI) manufaktur dan keyakinan konsumen. Bank Dunia juga menyoroti pelebaran ketidakseimbangan fiskal dan eksternal, dengan defisit transaksi berjalan diperkirakan mencapai 1,5% PDB.
Di pasar global, harga minyak mentah Brent melonjak 3,7% menjadi US$103,92 per barel akibat kekhawatiran gangguan pasokan dari Timur Tengah. Sementara itu, imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun turun sekitar 5 basis poin setelah sempat menyentuh level tertinggi dalam 24 tahun. Lelang obligasi AS tenor 30 tahun yang terserap solid turut menopang pergerakan tersebut.
Rupiah melemah, dana asing keluar
Tekanan juga terlihat di pasar keuangan domestik. Sepanjang pekan lalu, rupiah melemah 0,04% ke Rp17.891 per dolar AS, sedangkan indeks dolar AS (DXY) naik ke 102,23.
Di pasar obligasi, imbal hasil Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun naik ke 7,19%. Pada saat yang sama, investor asing mencatatkan arus dana keluar sebesar Rp2,05 triliun.
Pasar saham juga belum sepenuhnya lepas dari tekanan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) memang menguat 0,9% ke level 6.094, tetapi masih dibayangi arus dana keluar investor asing sebesar Rp2,46 triliun.
Di Amerika Serikat, indeks saham utama bergerak menguat. S&P 500 naik 0,6%, Dow Jones bertambah 0,1%, dan Nasdaq menguat 0,04%.
Data inflasi AS jadi ujian berikutnya
Pelaku pasar kini menanti serangkaian data ekonomi AS yang berpotensi memengaruhi arah dolar, imbal hasil obligasi, dan aliran modal global.
Agenda penting pekan ini meliputi data inflasi AS pada 14 Oktober, penjualan ritel, inflasi produsen, dan klaim pengangguran awal pada 15 Oktober, serta produksi industri pada 16 Oktober 2026.
Bagi investor Indonesia, kombinasi kenaikan penerimaan negara, prospek pertumbuhan yang membaik, harga energi tinggi, dan arus modal keluar menjadi faktor penting untuk dicermati. Kinerja fiskal yang solid menjadi modal positif, tetapi arah rupiah dan pergerakan dana asing tetap menjadi ujian bagi stabilitas pasar keuangan domestik. * (Syam)





