Jakarta, Mediaprofesi.id – Perkembangan kecerdasan buatan (AI) yang begitu pesat mendorong banyak perusahaan berlomba mengadopsinya. Namun, di balik peluang besar tersebut, ancaman keamanan siber juga ikut meningkat. Menjawab tantangan itu, Akamai Technologies mengumumkan kemitraan strategis dengan World Wide Technology (WWT) dalam AI Readiness Model for Operational Resilience (ARMOR).
Lewat kolaborasi ini, Akamai menjadi fondasi keamanan bagi “AI factory” milik WWT yang dibangun dengan dukungan teknologi NVIDIA. Tujuannya sederhana, yaitu membantu perusahaan mengembangkan AI tanpa harus mengorbankan aspek keamanan maupun performa.
Salah satu tantangan terbesar dalam implementasi AI adalah munculnya “security tax”, yakni kondisi ketika sistem keamanan tradisional justru menghabiskan sumber daya komputasi yang seharusnya digunakan untuk menjalankan beban kerja AI. Melalui ARMOR, Akamai dan WWT mengatasi persoalan tersebut dengan mengintegrasikan teknologi keamanan Akamai langsung ke NVIDIA BlueField Data Processing Units (DPU), sehingga perlindungan dapat berjalan lebih efisien.
ARMOR sendiri disebut sebagai framework keamanan AI pertama yang bersifat holistik dan netral terhadap vendor. Berbeda dengan solusi lain yang biasanya bergantung pada platform cloud tertentu, ARMOR menawarkan panduan menyeluruh yang mencakup tata kelola, manajemen risiko dan kepatuhan, perlindungan model AI, keamanan infrastruktur, perlindungan data, hingga pengembangan perangkat lunak yang aman.
“Sebelum hadirnya ARMOR, banyak organisasi harus menyusun strategi keamanan AI secara terpisah-pisah,” ujar PJ Joseph, Executive Vice President, Global Sales and Services Akamai.

Menurutnya, kolaborasi ini memungkinkan perusahaan mengisolasi klaster AI berskala besar sekaligus mencegah pergerakan ancaman tanpa mengurangi performa yang dibutuhkan untuk pelatihan maupun inferensi AI.
Dalam implementasinya, Akamai menghadirkan tiga kemampuan utama. Pertama, mengurangi beban keamanan dengan memindahkan segmentasi Akamai Guardicore ke NVIDIA BlueField sehingga perlindungan tetap berjalan meski sistem utama disusupi. Pendekatan ini juga diklaim mampu mempercepat penanggulangan ransomware rata-rata 21,4 persen, bahkan hingga 32,6 persen pada perusahaan berskala besar.
Kedua, Akamai API Security membantu melindungi agentic AI dan data lakes dari akses tidak sah, termasuk data sensitif yang menjadi sumber pelatihan large language models (LLMs). Ketiga, layanan Prolexic memberikan perlindungan terhadap serangan DDoS yang berpotensi melumpuhkan infrastruktur AI.
Kolaborasi ini juga diperkuat melalui Advanced Technology Center (ATC) milik WWT yang berfungsi sebagai laboratorium pengujian berbagai arsitektur AI. Dengan memasukkan teknologi Akamai ke dalam framework ARMOR, perusahaan diharapkan tidak hanya memenuhi standar kepatuhan, tetapi juga memiliki ketahanan siber yang lebih kuat.
“Tidak ada satu vendor pun yang mampu mengamankan AI sendirian. Bersama Akamai, kami ingin membantu pelanggan membangun AI perusahaan yang aman dan siap menghadapi tantangan di masa depan,” kata Chris Konrad, Global VP of Cybersecurity WWT.
Melalui kemitraan ini, Akamai dan WWT berharap perusahaan dapat mempercepat adopsi AI tanpa harus mengorbankan keamanan, sehingga inovasi dapat berkembang dengan lebih percaya diri. * (Syam/Wah)





